7 Perbedaan Buku Fiksi dan Non Fiksi, Apa Saja?

perbedaan-buku-fiksi-dan-non-fiksi

Perbedaan buku fiksi dan non fiksi menjadi rancu bagi pemula. Kerancuan ini memang sepele. Tetapi bisa berdampak besar bagi nasib karir kamu loh. Kamu ingin menjadi seorang penulis buku beken yang namannya wira-wiri di toko buku? Jika iya, kamu harus tahu perbedaan buku fiksi dan nonfiksi.

Karena yang terjadi di lapangan, masih banyak yang sering tertukar loh. Padahal, saat menawarkan buku ke penerbit, penulis tidak boleh salah mengklasifikasi dua hal ini. karena Ketika salah alamat, pengajuan naskah kamu bisa tertolak. 

Pengertian Buku Fiksi

Buat anak muda yang lebih suka membaca komik dan novel daripada buku ajar, maka kamu sedang membaca buku jenis fiksi. Jadi yang dimaksud dengan buku fiksi adalah buku yang ditulis berdasarkan khayalan, imajinatif dan tidak sesuai pada kenyataan. Jadi apa yang ditulis adalah khayalan.

Maka tidak heran jika buku-buku fiksi ini kadang isinya diluar nalar, yang tidak pernah kita temukan di dunia ini. Jika diperhatikan lagi, ciri buku fiksi ditulis menggunakan bahasa kiasan dan memiliki makna konotatif, atau makna tidak sebenarnya.

Tujuan Buku Fiksi 

Kalo cerit ditulis berdasarkan imajinasi dan khayalan, berarti buku tersebut tidak bermanfaat dong? Ups! Belum tentu juga. Karena terkadang isi hidup tidak harus logis terus. Terkadang kita butuh seni dan impresi. Salah satu untuk menikmati seni dan impresi itu adalah membaca buku-buku fiksi, yang sifatnya hiburan. Perlu di garis bawahi, sifatnya hiburan. Bukankah mayoritas kita lebih senang sesuatu yang berbau hiburan daripada sesuatu yang berbau serius?

Pada dasarnya kehadiran buku fiksi ini memiliki banyak tujuan loh. Tidak sekedar sebagai hiburan, tetapi juga membangkitkan emosi pembaca. Baik itu emosi sedih, senang, haru ataupun simpati. Perasaan emosional ini untuk beberapa orang perlu diaktifkan, agar memiliki empati terhadap sesama.

Ciri-Ciri Buku Fiksi 

Dalam kehidupan sehari-hari, buku fiksi ini bersinggungan dengan kita. Untuk mengenali lebih dekat tentang buku fiksi, berikut beberapa garis besarnya. 

1. Bersifat Khayalan 

seperti yang disinggung sebelumnya, salah satu ciri dasar buku fiksi terletak pada sifatnya. sifat buku fiksi adalah khayalan bersumber pada imajinasi. penulis memiliki kebebasan untuk bereksplorasi tentang apa yang dikhayalkannya. Meskipun demikian, banyak pula penulis tetap melakukan riset dan membutuhkan data di lapangan untuk dijadikan ide atau dasar menulis buku. 

2. Menggunakan Majas 

ciri buku fiksi ditulis menggunakan bahasa konotatif atau menggunakan arti yang tidak sebenarnya. bahasa konotatif dalam praktek penulisannya menggunakan bahasa majas, sebagai bahasa kiasan. Kehadiran majas juga efektif memberikan warna karya buku, sehingga tulisan terlihat lebih bervariatif. 

3. Tanpa Kaidah Baku

salah satu keuntungan menulis buku fiksi adalah tidak banyak aturan penulisan. tidak seperti penulisan buku nonfiksi seperti buku ajar, buku monograf ataupun buku pendidikan serupa. Jadi buku fiksi penulis bisa leluasa mengekspresikan tanpa dibatasi oleh aturan-aturan, cocok buat kamu yang punya jiwa bebas tidak terbelenggu oleh aturan. 

4. kebenaran bersifat relatif 

Jadi penulisan buku fiksi itu menganut bahwa benar itu relatif. Artinya, bagi saya benar, belum tentu bagi orang lain benar. sebaliknya, bagi orang lain mungkin benar, bagi saya itu bisa saja salah. Nah, daya tarik penulisan buku fiksi ada di sini. keberagaman dan sudut pandang penulis yang bersifat relatif inilah yang akan dijadikan selling point buku fiksi tersebut menarik atau tidak.

Contoh Buku Fiksi 

Lantas seperti apa saja sih rupa Buku Fiksi itu? Jadi bentuk fiksi itu tidak hanya novel dan komik. Tetapi prosa-prosa pendek, seperti cerpen, hikayat, puisi juga termasuk ke dalam kategori fiksi berikut adalah contoh.

Cerpen 

Cerpen kepanjangan dari cerita pendek. Beberapa contohnya cerpen karya helvy tiana rosa berjudul juragan haji, eka kurniawan berjudul cinta tak ada mati, cerpen karya sri izzati berjudul jempolan dan masih banyak lagi. 

Novel 

Novel adalah karangan prosa yang ditulis lebih panjang dari cerpen. Yang menceritakan kehidupan tokoh yang penuh konflik dan drama. Dibandingkan cerpen, novel memiliki cerita lebih kompleks. Contoh novel karya aqessaninda berjudul secangkir kopi dan pencakar langit. Novel karya leila s. Chudori berjudul pulang. Novel karya andrea hirata berjudul edensor. 

Komik 

Jika kamu tipe pembaca yang visual, maka buku fiksi jenis komik adalah yang paling tepat. Buku komik adalah buku fiksi bergambar yang disusun dalam panel. Ada beberapa contoh komik yang cukup populer, komik detektif conan yang ditulis oleh gosho aoyama, dragon ball karya akira toriyama, crayon shinchan karya yoshito usui dan masih banyak lagi. 

Cergam 

Cergam atau cerita bergambar juga termasuk dalam fiksi. Bedanya cergam dan komik terletak pada isinya. Jadi cergam ini versi cerita pendek yang berbentuk gambar. Sementara komik versi novel yang diceritakan dalam berlembar-lembar buku. Cergam ini sering kita temukan di surat kabar harian, misalnya setiap hari-hari tertentu, atau majalah. Contoh cergam yang pernah populer adalah bona dan rongrong, dongeng putri salju, paman kikuk, nirmala dan masih banyak lagi.

Contoh dari contoh cergam, komik, puisi dan cerpen ini kamu akan banyak temukan di surat kabar, tabloid ataupun majalah. Informasi menariknya, jika kamu mengirimkan karya ke sana, dan bisa dimuat di surat kabar tersebut, kamu bisa mendapatkan cuan loh. Untuk nominal cuan, setiap media berbeda-beda. Ada yang berupa uang ada pula yang diberi bingkisan. 

Begitupun Ketika kamu ingin menulis novel, maka kamu bisa mendapatkan cuan dari penulisan novel. Namun ada pula penerbit yang tidak memberikan sistem upah/royalty kepada penulis loh. Justru penulis yang disuruh membayar biaya cetak buku tersebut. System penulis yang membayar saat mencetak buku ini disebut dengan self publishing (penerbit minor).

Sementara novel yang kamu terbitkan dan kamu mendapatkan uang dari penerbit kamu bisa menggunakan jalur penerbit mayor.  Mungkin lain kali kita akan bahas di kesempatan. 

Struktur Buku Fiksi 

Apakah kamu tertarik ingin punya karya buku fiksi sendiri? Jika iya, maka kamu bisa memulai dan mencobanya sendiri loh. Ada struktur penulisan fiksi yang perlu digaris bawahi, sebagai berikut. 

1. Sampul Buku 

Sampul buku adalah sampul paling depan yang memuat beberapa unsur informasi seperti judul buku, nama pengarang. Ketika buku kamu berhasil lolos seleksi penerbit buku, dan akhirnya bukunya dicetak. Maka sampul buku versi yang kamu buat akan berubah. Jadi tidak  hanya ada nama dan judul saja, tetapi juga ada nama penerbit, tahun terbit dan ada tambahan data seperti tebal buku, no isbn.

2. Kata pengantar 

Jangan lupa memasukan kata pengantar yang berisi pengantar buku dan jangan lupa tuliskan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang berjasa terkait penulisan buku kamu. Jika tidak ada, bisa di skip, yang penting ada bagian kata pengantarnya saja. 

3. Judul bab/sub bab

Jika konteks buku fiksi di sini novel, karena novel berpuluh-puluh lembar bahkan ada yang ratusan halaman, maka buat judul bab atau sub bab untuk memudahkan memetakan cerita. Nyaris tidak ada buku yang tidak ada bab-bab atau sub bab. Karena bab/sub bab adalah peta yang memudahkan penulis saat menyampaikan ide gagasan, dan memudahkan pembaca untuk memahami apa yang ingin disampaikan penulis. 

4. Tokoh dan penokohan 

Jangan lupa memasukan tokoh dan penokohan (karakter) dalam cerita. Sebuah cerita tidak akan menarik jika tidak ada sebab akibatnya. Nah fungsi tokoh dan penokohan untuk memudahkan dalam membuat sebab akibat cerita.

5. Tema cerita 

Tema cerita juga wajib ada. Tanpa tema, cerita tidak akan terbentuk dan tidak dapat dikisahkan. Kamu bisa menentukan tema sesuai dengan fenomena yang terjadi di masyarakat, agar novel kamu lebih mudah diterima oleh masyarakat pula. 

6. Diksi 

Seni menulis buku fiksi juga terletak bakat penulis dalam merangkai diksi atau pilihan kalimat. Kalimat yang menarik, pas, akan mempengaruhi kesan cerita. Jadi, Ketika kamu ingin membuat novel, pastikan seluruh kemampuan dan bakat kamu dalam Menyusun kata harus dikeluarkan. Karena seninya menulis novel bergantung pada diksi. 

7. Alur cerita 

Kamu juga perlu membuat alur. Ada alur maju, alur mundur ada juga alur campuran. Buat pemula, bisa menggunakan alur maju atau alur mundur. Alur campuran sedikit lebih sulit, dan biasa dipraktekan oleh mereka yang sudah berpengalaman.

Pengertian Buku Nonfiksi 

Jika kamu suka membaca buku berjenis self improvement, buku biografi, jurnal, skripsi, dan karya ilmiah maka kamu suka dengan buku nonfiksi. Jadi buku non fiksi adalah buku yang ditulis berdasarkan data, fakta atau sesuai dengan kenyataan. Dimana buku nonfiksi ini sifatnya buku pengetahuan, buku yang berisi informasi, teori dan memuat wawasan. 

Segmentasi buku nonfiksi sangat luas. Jika buku nonfiksi tersebut masuk kategori buku ajar/buku pendidikan maka segmentasi pembaca rata-rata adalah pelajar/siswa dan masyarakat akademisi. Sementara untuk buku-buku umum seperti biografi atau buku self improvement segmentasi pasarnya adalah masyarakat umum.

Tujuan Buku Nonfiksi 

Kehadiran buku nonfiksi ini memiliki tujuan yang tidak kalah penting juga loh. Diantaranya bertujuan untuk menyajikan informasi/teori/gagasan atau ide si penulis. Sementara untuk konteks karya ilmiah atau skripsi, tujuannya untuk menyempurnakan informasi atau gagasan dari penelitian-penelitian sebelumnya. 

Secara teknis, penulisan buku nonfiksi berdasarkan pada data yang dapat dipertanggungjawabkan, maka buku nonfiksi ini juga perlu riset, kajian ilmiah, penelitian atau kajian literatur. Sehingga apa yang ditulis bersifat objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

Dari segi penulisan dan pemilihan diksi, buku nonfiksi mengandung bahasa denotatif atau bermakna sebenarnya. Artinya buku yang ditulis tidak melibatkan majas ataupun diksi kiasan. Sehingga bahasa yang disampaikan sebisa mungkin tegas dan jelas, agar tidak terjadi multitafsir.

Ciri-Ciri Buku Nonfiksi 

Dari pengertian dan tujuan buku fiksi dan nonfiksi di atas, sebenarnya sudah dapat dilihat perbedaannya. Sementara buat kamu yang masih belum yakin apa saja sih pembedanya. Berikut adalah ciri-ciri buku nonfiksi secara spesifik.

1. Menggunakan bahasa formal 

Dari segi bahasa, buku nonfiksi menggunakan bahasa formal, yaitu menggunakan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Penulisan menggunakan bahasa ibu, atau bahasa indonesia. Tidak disarankan menggunakan bahasa daerah, karena dapat menimbulkan pemahaman pembaca. Karena menggunakan bahasa yang formal, maka kelemahan buku nonfiksi ini terkesan kaku, dan membosankan. 

2. Sebagian besar menggunakan bahasa denotasi 

Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa penulisan buku nonfiksi menggunakan bahasa denotasi atau bahasa yang menggunakan makna sebenarnya. Tidak menggunakan kiasan ataupun majas. Karena bahasa kiasan atau majas rawan terjadi multitafsir bagi kalangan pembaca, sehingga rawan terjadinya konflik. Sementara buku-buku nonfiksi menghindari hal-hal seperti ini. 

3. Bersifat fakta 

Perbedaan yang paling mencolok dari buku nonfiksi dengan buku fiksi terletak pada sifatnya. Jadi pada buku nonfiksi bersifat fakta. Jadi apa yang ditulis berdasarkan data, fakta, teori dan kajian/penelitian oleh si penulis. Ini berbalik dengan buku fiksi yang bersifat imajinatif/khayalan. Karena ditulis berdasarkan data dan fakta, maka maka objektivitas hasil karya pun tidak diragukan lagi. 

4. Ditulis berbentuk tulisan ilmiah populer

Jadi yang dimaksud dengan tulisan ilmiah populer adalah tulisan yang dikemas menggunakan bahasa pasar, bahasa populer ilmiah. Namun tetap sesuai dengan kajian, dan sesuai dengan kiblat teori yang dipegang si penulis. Pembahasan ilmiah populer ini hanya untuk mencairkan suasana agar buku tidak terkesan kaku dan membosankan. 

5. Apa yang ditulis adalah temuan baru

Ciri yang terakhir dari buku nonfiksi adalah, buku tersebut ditulis dari hasil temuan baru atau dari pengembangan temuan yang sudah ada, yang sifatnya pengembangan ide baru. Tentu untuk bisa menemukan sesuatu yang baru inilah yang sulit, dan dibutuhkan skill. Oleh sebab itu, menjadi seorang penulis itu dibutuhkan konsentrasi tinggi.

Contoh Buku Non Fiksi

Tahukah kamu? Jika buku nonfiksi itu dibagi menjadi dua bagian. Yaitu buku nonfiksi murni dan buku nonfiksi kreatif. Keduanya sama-sama buku nonfiksi hanya besa spesifikasinya. 

1. Buku nonfiksi murni

Jadi yang dikatakan buku nonfiksi murni adalah buku yang ditulis berdasarkan data otentik. Bisa berupa kumpulan data, yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku. Kumpulan data tersebut bisa berasal dari teori, observasi, wawancara penulis ataupun dalam bentuk angket sekalipun.

Nah, contoh buku nonfiksi murni ini adalah karya-karya yang kamu temukan selama mengerjakan tugas di kampus. Misalnya skripsi, laporan, karya ilmiah, makalah, feature, tesis, artikel dan disertasi.

2. Buku nonfiksi kreatif 

Sementara yang dimaksud dengan buku nonfiksi kreatif adalah buku yang ditulis berdasarkan data-data otentik yang kembangkan oleh penulis dengan sentuhan kreatif dari si pengarang. Jadi hasil tulisannya lebih fleksibel, lebih mengalir, lebih kekinian dan tidak kaku.

Jenis buku seperti ini lebih sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh buku nonfiksi kreatif adalah buku biografi, buku self improvement, dan buku-buku motivasi lainnya.

Bagaimana dengan ulasan perbedaan buku fiksi dan non fiksi di atas? Semoga cukup jelas dan cukup gamblang. Paling tidak kamu menjadi lebih tahu apa perbedaan diantara keduanya. Tahu juga ciri-ciri dan tujuannya. 

Perbedaan Buku Fiksi dan Non Fiksi

Berikut ini adalah perbedaaan buku fiksi dan non fiksi secara lengkap:

Buku Fiksi

  • Cerita buatan
  • bersifat imajinatif
  • bahasanya kiasan
  • Nilai kebenaranya tidak wajib
  • Menggunakan bahasa yang asosiatif
  • Konotatif
  • Kebanyak katanya tidak baku

Buku Nonfiksi

  • Bedasarkan data
  • Informatif
  • Bahasnya lugas
  • Nilai kebenaranya wajib ada
  • Menggunakan bahasa yang ekspresif
  • Denotif
  • Hampir semua kata-katanya baku

Kesimpulan

Semoga setelah membaca artikel dari bukunesiastore ini, kamu tidak lagi tertukar mengartikan. Apalagi jika kamu ingin menulis dan mengirimkan ke penerbit. Ingat! Jangan sampai salah membedakan menuliskan judul atau subjek di email. Karena meski sepele, ini bisa berdampak fatal. Jangan sampai karena kesalahan kecil, buku yang kamu tulis dan keren itu harus tertolak. (Iruekkawa Elisa)