10 Cara Menjadi Ibu yang Baik untuk Anak

cara menjadi ibu yang baik untuk anak

Cara menjadi ibu yang baik untuk anak tidak semudah kita membaca artikel ataupun kata para motivator. Menjadi ibu yang baik untuk anak secara praktik lebih susah, karena banyak hal yang mempengaruhi emosi sang ibu.

Rata-rata seorang ibu memiliki banyak pekerjaan dari pagi sampai malam, semua dikerjakan sendiri. Belum jika dibebani oleh anak pertama, kedua dst. Pastinya untuk mempraktikkan menjadi ibu yang baik dan sabar sebuah tantangan yang LUAR BIASA. 

Meskipun demikian, buat calon ibu, tidak ada salahnya jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri dengan belajar parenting. Misalnya membaca buku pranikah atau membaca artikel seperti ini.

Cara Menjadi Ibu yang Baik untuk Anak

Berikut adalah cara menjadi ibu yang baik untuk anak bisa kamu latih. 

1. Jangan Membanding-Bandingkan Buah Hati

Teruntuk ibu yang memiliki buah hati lebih dari dua. Seringkali, tanpa di sadari oleh orangtua membandingkan antara anak satu dengan yang lain.

Mungkin bagi orangtua itu hal yang tidak penting dan biasa saja. Sementara jika car aini menjadi sebuah kebiasaan akan menjadi masalah bagi si anak.

kita sebagai orangtua harus menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ada yang mentalnya kuat ada pula yang mentalnya lemah.

Sebagai orangtua juga harus tahu, bahwa setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing, yang tidak dapat kita bandingkan. Karena setiap anak jenius di bidangnya masing-masing. 

2. Buat Skala Prioritas 

Jika merasa terlalu banyak hal yang dikerjakan, tidak ada salahnya kamu membuat skala prioritas. Skala prioritas efektif untuk membagi waktu.

Sekaligus membantu orangtua lebih waras, karena bisa menempatkan diri mana yang paling penting, aga penting sampai yang tidak penting. Apalagi jika kamu tipe orangtua karir yang memiliki peran ganda menjadi ibu dan menjadi seorang ayah. 

payday web

3. Sayangi Diri Sendiri

Percayalah bahwa setiap orang pasti memiliki masalah. Tidak ada orang yang hidup tanpa masalah. Jadi buat kamu yang sekarang beban masalah yang kamu emban sangatlah berat, tidak ada salahnya kok untuk beristirahat sebentar. 

Letakkan sejenak semua beban masalah kamu. Jangan lupa untuk menyayangi diri sendiri. Jika kita merasa orang lain tidak menyayangi kita, siapa lagi yang akan menyayangi diri sendiri? Selain diri kita sendiri?

Jadi, bangun dan bangkit dari masalah. Karena hidup ini isinya hanyalah masalah, yang harus kita hadapi. Jika kamu Lelah, hadapi pelan-pelan. Ketika tenagamu full, bergegaskan untuk segera menyelesaikan.

Baca Juga: 10 Peran Ibu Dalam Keluarga Untuk Pembentukan Karakter Anak

4. Jangan Gengsi Meminta Maaf

Setelah menikah dan memiliki anak, ada yang diuji dengan anak yang nakal, anak yang hiperaktif atau anak yang jenius pun bisa menjadi masalah untuk orangtua dalam mendidik.

Sehingga memicu orangtua mudah naik darah dan emosi. Ketika kamu melakukan kesalahan pada buah hati, jangan gengsi meminta maaf.

Karena dengan meminta maaf kepada anak, terhadap kesalahan orangtua. Secara tidak langsung juga mengajarkan anak bagaimana tanggung jawab dan bagaimana caranya meminta maaf Ketika berbuat salah. Sehingga Ketika si anak juga melakukan kesalahan, anak dengan mudah mengucapkan permintaan maaf.

5. Pahami Pandangan Anak

Seringkali orang tua menganggap anak  adalah anak-anak. Dimana si anak seperti bayi yang tidak bisa berbicara atau semacamnya. Padahal, seorang anak pun juga memiliki pandangan dan pendapat mereka sendiri. 

Jadi penting banget buat orangtua memahami pandangan anak sedini mungkin. Karena dampak memahami si anak, anak bisa lebih eksploratif, aktif dan kreatif serta tumbuh menjadi anak yang lebih terbuka kepada orangtua. Sebaliknya, Ketika orangtua selalu menutup dan menyepelekan pandangan anak, maka cenderung akan menutup diri.

6. Dukung Minat dan Bakat Anak

Jangan lupa untuk mendukung minat dan bakat anak. sebagai orangtua memang harus intuitif melihat potensi bakat anak. Karena dengan menyadari potensi dan bakat anak sejak dini, bisa membantu mengarahkan anak.

Sehingga anak bisa bertumbuh di kolam yang tepat dan lebih eksploratif. Terkadang saat mendampingi minat bakat anak, orangtua tidak perlu memberikan tuntutan.

Misalnya dengan mengarahkan minat bakat anak dengan mengikuti ajang perlombaan. Nah, orang tua tidak perlu menuntut harus menang dan harus latihan. Biarkan saja sesuai mau buah hati.

Karena tujuan memfasilitasi mengikuti lomba buah hati bukan bertujuan untuk menang. Tetapi untuk menempa mental dan sportifitas anak. 

7. Luangkan Waktu Untuk Bersama

Buat ibu wanita karir, seringkali anak menjadi korban kurang mendapatkan sentuhan dan kasih sayang. Salah satu solusi untuk menghadapi momen seperti ini, sebagai orang tua wajib meluangkan waktu bersama keluarga.

Tujuannya sudah pasti, membangun bonding dengan suami dan buah hati. Agar anak tidak merasa kesepian, dan merasa diperhatikan.

8. Berbagi Tanggung Jawab dengan Pasangan

Masalah yang sering dikeluhkan dalam menjalankan peran sebagai ibu adalah, masalah suami yang tidak mau tahu. Sehingga ibu menjalankan banyak tugas, yang berdampak kelelahan yang berlebihan. Selain itu bisa memicu stress, dan emosional.

Dampak panjangnya bisa merembet kemana-mana. Salah satu cara untuk meminimalisir masalah tersebut adalah kesadaran diri suami dengan cara berbagi tanggungjawab.

9. Jangan Mengejar Kesempurnaan 

Pemicu stress bagi orangtua adalah terlalu fokus mengejar pada kesempurnaan. Misalnya rumah harus selalu rapi. Padahal sedang memiliki anak yang aktif bermain dan lagi suka mengobrak-abrik isi rumah untuk bermain. Nah, buat orangtua yang idealis, bisa sedikit menurunkan perasaan ini. 

Misalnya dengan membiarkan anak puas bermain. Rumah berantakan biarkan saja, tidak perlu dibereskan. Baru setelah anak sudah Lelah, bosan bermain dan tidur. Baru bisa dibereskan. Tentunya ini hanya sekedar contoh kecil. 

Baca Juga: 8 Langkah Praktis Cara Memperbaiki Diri Menjadi Lebih Baik

10. Jangan Ragu Meminta Bantuan Orang Lain

Sesama ibu yang memiliki anak-anak, pasti bisa merasakan beban yang mereka hadapi. Jika kamu merasa tidak sanggup dengan hidup ini, jangan ragu untuk meminta bantuan orang lain. Misalnya ke psikolog.

Jika masalah biaya menjadi kendala utama, tidak ada salahnya kamu meminta bantuan keluarga terdekat atau teman terdekat. Ingat, sebagai orangtua, agar rumah tangga tidak oleng, nahkoda dan asisten nahkoda harus tetap waras, agar kapal tidak karam ditengah Samudra. 

Itulah cara menjadi ibu yang baik untuk anak. Meski pada kenyataannya, tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Semoga kamu salah satu yang bisa mempraktikkannya dengan baik. (Iruekkawa Elisa)

Ingin tahu lebih dalam tentang cara menjadi ibu yang baik? Beberapa pertanyaan berikut bisa membantu kamu banget!

1. Bagaimana cara menjadi ibu yang baik menurut Islam?

Menjadi ibu yang baik menurut Islam berarti mendidik anak dengan kasih sayang, akhlak yang baik, dan teladan yang benar. Ibu juga dianjurkan menjaga ibadah, menjaga tutur kata, serta membimbing anak sesuai nilai-nilai Qur’ani. Konsistensi dalam kebaikan adalah kuncinya.

2. Bagaimana cara menjadi ibu yang sabar?

Ibu bisa melatih kesabaran dengan memahami karakter anak, mengelola emosi, dan memberi jeda saat merasa kewalahan. Fokus pada solusi, bukan kemarahan, membuat proses pengasuhan lebih ringan. Tubuh yang cukup istirahat juga sangat membantu menjaga emosi tetap stabil.

3. Apa tips menjadi ibu yang sukses mendidik anak?

Ibu perlu membangun komunikasi yang hangat, memberi teladan yang baik, dan konsisten dalam aturan. Menghargai usaha anak serta hadir secara emosional dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Pendidikan terbaik dimulai dari contoh nyata di rumah.

4. Apa tips menjadi ibu rumah tangga yang kreatif?

Ibu bisa menjadi lebih kreatif dengan mencoba ide-ide baru dalam mengatur rumah, memasak, atau aktivitas bersama anak. Mengikuti inspirasi dari buku, media sosial, atau komunitas parenting juga membantu. Kreativitas tumbuh saat ibu berani bereksperimen tanpa takut salah.

Semoga artikel dari Bukunesia Store ini bermanfaat dalam membantu para ibu memahami cara menjadi ibu yang baik untuk anak, sehingga setiap langkah pengasuhan bisa menghadirkan kebaikan dan kedekatan dalam keluarga.

Artikel ini pertama kali ditulis oleh Yusuf Abdul Aziz, diperbarui oleh Muhammad Luqman H pada 22 Juli 2025, dan terakhir diperbarui oleh Annisa Ningrum pada 28 November 2025.

Artikel Terbaru