Puisi tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi perasaan, tetapi juga sebagai sarana perenungan tentang makna hidup, kematian, kebenaran, dan keberadaan manusia.
Dalam kajian sastra, puisi yang memuat refleksi mendalam tentang nilai, konsep hidup, atau pertanyaan eksistensial sering disebut sebagai puisi filosofis.
Jenis puisi ini menggabungkan keindahan bahasa dengan pemikiran reflektif, sehingga pembaca tidak hanya merasakan emosi, tetapi juga diajak berpikir lebih dalam.
Table of Contents
TogglePengertian Puisi Filosofis
Puisi filosofis adalah jenis puisi yang tidak hanya menampilkan keindahan kata, tetapi juga mengandung perenungan tentang makna hidup, kebenaran, hubungan manusia dengan Tuhan, hingga persoalan sosial yang dihadapi sehari-hari.
Puisi ini biasanya lahir dari kegelisahan, pengalaman batin, atau pertanyaan eksistensial yang kemudian diolah menjadi bahasa puitis yang reflektif.
Karena itu, puisi filosofis tidak selalu terasa abstrak atau rumit, melainkan bisa berangkat dari situasi yang sangat dekat dengan kehidupan, seperti ketidakadilan, kesendirian, pencarian jati diri, atau proses berkarya.
Melalui pendekatan tersebut, puisi filosofis mengajak pembaca tidak hanya merasakan emosi, tetapi juga merenungkan nilai, pilihan hidup, dan realitas yang lebih dalam.
Baca Juga: Tipografi dalam Puisi: Pengertian, Unsur, Contoh, & Cara Memilih
Jenis Puisi Filosofis
Menurut kajian dalam The Princeton Encyclopedia of Poetry and Poetics, puisi filosofis merupakan karya sastra yang memadukan refleksi intelektual dengan bentuk puitis, biasanya membahas tema metafisika, etika, eksistensi, atau makna hidup.
Puisi jenis ini banyak ditemukan dalam tradisi sastra klasik maupun modern, dari karya-karya sufistik hingga puisi eksistensial kontemporer. Berikut beberapa jenis puisi filosofis yang umum dikenal dalam kajian sastra.
1. Puisi Eksistensial
Puisi eksistensial berfokus pada pertanyaan tentang makna hidup, kebebasan, kesendirian, dan pilihan manusia. Tema-tema seperti kegelisahan, pencarian jati diri, atau absurditas kehidupan sering muncul dalam jenis puisi ini.
Dalam filsafat eksistensial, manusia dipandang sebagai makhluk yang harus menentukan makna hidupnya sendiri. Puisi-puisi karya penyair modern sering mengangkat tema ini karena relevan dengan kehidupan manusia yang penuh ketidakpastian.
2. Puisi Metafisik
Puisi metafisik membahas hal-hal yang bersifat abstrak dan spiritual, seperti hubungan manusia dengan Tuhan, jiwa, waktu, dan kematian.
Jenis puisi ini populer dalam tradisi sastra Inggris abad ke-17, terutama melalui karya John Donne dan George Herbert.
Menurut Abrams dalam A Glossary of Literary Terms, puisi metafisik dikenal dengan penggunaan metafora intelektual, simbol, dan perbandingan yang tidak biasa untuk menjelaskan konsep-konsep filosofis.
3. Puisi Sufistik atau Spiritual
Puisi sufistik adalah puisi yang berisi refleksi spiritual dan pengalaman batin dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dalam tradisi Islam, jenis puisi ini berkembang melalui karya Jalaluddin Rumi, Hafiz, dan penyair-penyair tasawuf lainnya.
Puisi sufistik biasanya menggunakan simbol cinta, perjalanan, cahaya, atau kerinduan sebagai metafora hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
4. Puisi Kontemplatif
Puisi kontemplatif berisi perenungan tentang kehidupan sehari-hari, alam, atau pengalaman batin. Jenis puisi ini tidak selalu membahas konsep filosofis secara langsung, tetapi menghadirkan refleksi yang membuat pembaca merenung.
Dalam tradisi sastra Barat, puisi kontemplatif banyak ditemukan dalam karya William Wordsworth yang memadukan pengalaman alam dengan refleksi filosofis.
5. Puisi Didaktik
Puisi didaktik bertujuan menyampaikan ajaran moral, etika, atau nilai kehidupan. Jenis puisi ini sering digunakan dalam sastra klasik untuk menyampaikan pesan-pesan filosofis atau kebijaksanaan hidup.
Dalam kajian sastra, puisi didaktik dianggap sebagai bentuk puisi yang menggabungkan estetika bahasa dengan fungsi pendidikan moral.
Jenis puisi filosofis sangat beragam, mulai dari puisi eksistensial, metafisik, sufistik, kontemplatif, hingga didaktik.
Meskipun berbeda tema dan pendekatan, semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengajak pembaca merenungkan makna hidup dan realitas yang lebih dalam.
Puisi filosofis menjadi bukti bahwa sastra bukan hanya soal keindahan kata, tetapi juga ruang untuk berpikir, mencari makna, dan memahami kehidupan secara lebih luas.
Baca Juga: Kaidah Kebahasaan Teks Puisi: Pengertian, Unsur dan Contoh
Contoh Puisi Filosofis
Puisi filosofis sebenarnya tidak selalu terasa berat atau jauh dari kehidupan sehari-hari. Banyak di antaranya justru lahir dari pengalaman yang sangat dekat, seperti kegelisahan tentang masa depan, ketidakadilan sosial, kesendirian, atau proses mencari arti dalam pekerjaan dan hubungan.
Lewat bahasa yang puitis, hal-hal sederhana itu diolah menjadi perenungan yang lebih sentimen. Karena itu, puisi filosofis sering terasa relevan dengan kehidupan kita, seolah menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan-pertanyaan yang diam-diam kita rasakan.
Berikut beberapa contoh puisi filosofis yang bisa dijadikan sebagai gambaran.
1. Ganggu
Orang-orang pintar bicara hukum dan siasat
Di aula-aula megah mengejar impian
Perisai emas
Semuanya pasti
Selagi badai kuasa mampu teratasi
Orang miskin hidup terbelenggu benang
Mengais makan dari tong sampah kebijakan
Buta akan kuasa dalang takdir
Bekerja dalam diam
Tak sadar institusi
Orang-orang pintar itu tahu
Ilmu tentang yang mengganggu
Yang tak mengganggu mereka
Mereka yang terganggu
Tak tahu bahwa dirinya terganggu
2. Mengapa Aku Bersajak
Baris kupahat
Sajak kupoles
Bukan demi cinta
Bukan pula demi waktu
Tiap suku kata ditimbang
Diuji lalu dimantapkan
Topeng kepura-puraan yang disepuh emas
Hatiku tetap hening terkunci
Namun kata-kata berparade dalam sirkus gemilang
Tidak lahir dari perlu atau bisikan api
Dirajut untuk mengejar sorot sesaat
Bila daun salam berguguran
Bila emas terendap
Maka tujuan bersemi
Intensi tanpa alibi
Tak ada mimpi tersembunyi
Hanya seni yang dipahat untuk berdiri sendiri
3. Mungkin
Pasang surut membisik rahasia
Perak menetes di pantai yang resah
Kiranya aku berjalan sendiri
Langkah-langkah hampa
Menghantam pasir di bawah kaki
Apa aku sungguh sendiri
Ataukah
Tangannya yang selembut buih
Menyelinap dalam celah persepsi
Aku mendengar ombak
Melantunkan apa yang tak kutahu
Buih dan bayang menyatu
Aku mendengar burung
Bernyanyi dari jauh
Ataukah suaranya memanggil
Melintasi sulaman imaji
Bayangku bentang lagi retak
Hidup yang mungkin ada
Tawa yang menjalin jari
Seirama langkah kaki
4. Populisme
Senandung melodi samar nan lembut
Kata-kata ringan tanpa bayang dan beban
Mereka berkata
Sungai dangkal sudah diramal
Mengalir merendah
Meninggalkan gunung
Menara gading di puncaknya
Namun aku tetap terdiam
Ada jelita nan sederhana
Apa adanya
Tak semuanya harus kusut
Kadang angin membawa napas nan tulus
Baca Juga: 7 Kumpulan Puisi Karya Sastrawan Terkenal Wajib Kamu Tahu
5. Skriptorium
Di ruang sunyi ini
Rongga polos sinar halus
Dengung siang memudar ke udara
Gurat-gurat tersusun sabar dan indah
Kunci diketuk
Sangkar diusap
Dan diketuk
Bangku serta meja
Senantiasa
Di sini aku menemukan logika
Kuncup yang membuka
Sajakku lahir di balik gerbang
Sebuah skriptorium yang dipunya
Puisi filosofis menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata yang indah, melainkan ruang dialog antara manusia dan pertanyaan-pertanyaan terdalamnya.
Puisi hadir sebagai cermin, sekaligus jendela, yang mencerminkan kegelisahan batin dan membuka pandangan baru tentang hidup, nilai, dan keberadaan.
Ketika kita membaca atau menulis puisi filosofis, sesungguhnya kita sedang belajar memahami diri sendiri dengan lebih jujur dan memaknai kehidupan dengan kesadaran yang lebih luas.
Nuansa perenungan semacam ini juga dapat kamu temukan dalam buku Skriptorium: Kumpulan Puisi, yang menghadirkan sajak-sajak reflektif tentang luka, waktu, dan pencarian jati diri—sebuah ruang sunyi untuk berdialog dengan makna dan menemukan gema suara hati sendiri.
Buku Skriptorium Kumpulan Puisi
Skriptorium: Kumpulan Puisi menghadirkan sajak dan prosa puitis yang merekam luka, ironi, cinta, dan pencarian jati diri dalam balutan bahasa yang reflektif dan filosofis. Buku ini mengajak pembaca menyelami makna kehidupan secara lebih dalam, menemukan kesadaran baru, serta berdialog dengan suara hati sendiri melalui setiap larik yang dituliskan.
Beli di WebsiteSemoga artikel dari Bukunesia Store ini bermanfaat dan membantu kamu memahami puisi filosofis secara lebih mendalam, mulai dari pengertian hingga contohnya. Dengan pemahaman yang tepat, kamu bisa lebih mudah mengapresiasi dan menciptakan puisi yang sarat makna.
Referensi
Greene, Roland, et al. The Princeton Encyclopedia of Poetry and Poetics. Princeton University Press.
Abrams, M. H. A Glossary of Literary Terms. Cengage Learning.
Perrine, Laurence. Sound and Sense: An Introduction to Poetry. Harcourt Brace.
Kennedy, X. J., & Gioia, Dana. An Introduction to Poetry. Longman.






