Sholat Qiyamul Lail merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Ibadah ini dilakukan pada malam hari setelah sholat Isya hingga menjelang waktu Subuh.
Qiyamul Lail sering dimaknai sebagai shalat malam yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan, baik berupa sholat tahajud, sholat witir, maupun shalat sunnah lainnya.
Bagi umat Islam, Qiyamul Lail menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan, serta memperkuat ketenangan batin.
Table of Contents
ToggleApa Itu Qiyamul Lail
Secara bahasa, qiyam berarti berdiri dan lail berarti malam. Qiyamul Lail berarti menghidupkan malam dengan ibadah, khususnya sholat.
Menurut para ulama, Qiyamul Lail mencakup seluruh shalat sunnah yang dilakukan pada malam hari, baik setelah tidur maupun tanpa tidur terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan sholat tahajud yang secara khusus disunnahkan dilakukan setelah bangun tidur.
Allah SWT memuji orang-orang yang melaksanakan Qiyamul Lail sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat As-Sajdah ayat 16, yang menjelaskan bahwa mereka bangun di malam hari untuk berdoa dan berharap kepada-Nya.
Niat shalat Qiyamul Lail cukup dilakukan di dalam hati. Tidak ada lafaz niat khusus yang wajib dibaca dengan lisan. Yang terpenting adalah kesadaran dan keikhlasan bahwa sholat tersebut dilakukan semata-mata karena Allah SWT.
Baca Juga: Keajaiban Sholat Tahajud 7 Hari 7 Malam
Tata Cara Sholat Qiyamul Lail
Sholat Qiyamul Lail dikerjakan dengan tata cara yang sederhana, namun menekankan kekhusyukan dan ketenangan dalam setiap gerakannya. Ibadah ini tidak memiliki aturan yang kaku, sehingga dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang. Berikut penjelasan lengkap setiap tahapannya.
1. Berwudhu dan Mempersiapkan Diri dengan Tenang
Sebelum melaksanakan sholat Qiyamul Lail, seorang Muslim dianjurkan berwudhu dengan sempurna sebagai bentuk penyucian diri, baik lahir maupun batin. Wudhu di malam hari juga membantu menyegarkan tubuh setelah beristirahat.
Selain itu, penting untuk mempersiapkan tempat sholat yang bersih dan tenang agar ibadah dapat dilakukan dengan lebih khusyuk.
Banyak ulama menganjurkan untuk menghindari aktivitas yang dapat mengganggu konsentrasi sebelum sholat, seperti penggunaan gawai berlebihan, agar hati lebih fokus saat bermunajat.
2. Meluruskan Niat karena Allah SWT
Niat shalat Qiyamul Lail cukup dihadirkan di dalam hati tanpa harus diucapkan secara lisan. Inti dari niat adalah kesadaran bahwa sholat ini dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan karena rutinitas atau paksaan.
Niat yang ikhlas menjadi pondasi utama agar sholat malam bernilai ibadah dan membawa ketenangan batin bagi pelakunya.
3. Melaksanakan Sholat Dua Rakaat dengan Satu Salam
Qiyamul Lail dikerjakan dengan pola dua rakaat kemudian salam, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Setelah salam, sholat dapat dilanjutkan kembali dengan dua rakaat berikutnya sesuai kemampuan.
Tidak ada batasan minimal atau maksimal jumlah rakaat, sehingga penulis dianjurkan menyesuaikan dengan kondisi fisik dan waktu yang tersedia. Prinsipnya, lebih baik sedikit tetapi rutin daripada banyak namun memberatkan.
4. Membaca Al-Fatihah dan Surat Al-Qur’an
Pada setiap rakaat, setelah membaca Surah Al-Fatihah, dianjurkan membaca ayat atau surat Al-Qur’an yang dihafal. Bacaan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, baik ayat pendek maupun panjang.
Dalam sholat Qiyamul Lail, dianjurkan membaca Al-Qur’an dengan tartil dan penuh penghayatan, karena tujuan utama ibadah ini adalah mendekatkan hati kepada Allah, bukan mengejar banyaknya bacaan.
5. Ruku’, Sujud, dan Duduk dengan Tumakninah
Setiap gerakan dalam sholat Qiyamul Lail sebaiknya dilakukan dengan tuma’ninah, yaitu tenang dan tidak tergesa-gesa. Ruku’ dan sujud menjadi momen penting untuk memperbanyak doa dan tasbih.
Rasulullah SAW sering memperpanjang sujud pada sholat malam sebagai bentuk ketundukan dan penghambaan kepada Allah SWT. Gerakan yang dilakukan dengan tenang membantu hati lebih hadir dan fokus dalam ibadah.
6. Memperbanyak Doa dan Dzikir
Setelah menyelesaikan beberapa rakaat sholat, dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir. Waktu malam, khususnya sepertiga malam terakhir, merupakan waktu mustajab untuk berdoa.
Seorang Muslim dapat memohon ampunan, meminta kebaikan dunia dan akhirat, serta mencurahkan isi hati kepada Allah SWT dengan bahasa apa pun yang dipahami. Doa yang tulus dan penuh harap menjadi salah satu inti dari Qiyamul Lail.
7. Menutup dengan Sholat Witir
Sebagai penutup sholat Qiyamul Lail, dianjurkan melaksanakan sholat witir dengan jumlah rakaat ganjil, seperti satu, tiga, atau lima rakaat.
Rasulullah SAW bersabda agar menjadikan sholat witir sebagai akhir dari sholat malam. Witir berfungsi sebagai penyempurna ibadah malam dan menjadi tanda berakhirnya rangkaian Qiyamul Lail.
Baca Juga: Surat yang Dibaca Saat Sholat Tahajud, Mustajab
Perbedaan Qiyamul Lail dan Tahajud
Qiyamul Lail dan Tahajud sering dianggap sama oleh sebagian umat Islam karena keduanya sama-sama dilakukan pada malam hari. Padahal, meskipun saling berkaitan, keduanya memiliki pengertian dan cakupan yang berbeda.
Memahami perbedaan Qiyamul Lail dan Tahajud penting agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan dan tidak menimbulkan kekeliruan dalam pemahaman. Secara umum, Tahajud adalah bagian dari Qiyamul Lail, namun tidak semua Qiyamul Lail disebut Tahajud.
1. Pengertian Qiyamul Lail
Qiyamul Lail secara bahasa berarti “menghidupkan malam”. Dalam istilah syariat, Qiyamul Lail adalah segala bentuk ibadah yang dilakukan pada malam hari setelah sholat Isya hingga menjelang Subuh.
Ibadah ini tidak terbatas pada sholat saja, tetapi juga mencakup membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan ibadah sunnah lainnya.
Para ulama menjelaskan bahwa seseorang sudah termasuk melakukan Qiyamul Lail meskipun hanya sholat sunnah dua rakaat di malam hari atau mengisi malam dengan dzikir dan doa.
Oleh karena itu, Qiyamul Lail memiliki makna yang luas dan fleksibel, sesuai kemampuan masing-masing hamba.
2. Pengertian Sholat Tahajud
Sholat Tahajud adalah salah satu bentuk shalat sunnah malam yang memiliki syarat khusus, yaitu dilakukan setelah tidur terlebih dahulu. Kata tahajud berasal dari kata hajada yang berarti bangun dari tidur. Inilah yang membedakan Tahajud dari sholat malam lainnya.
Menurut mayoritas ulama, sholat Tahajud baru disebut Tahajud jika seseorang sempat tidur meskipun hanya sebentar, lalu bangun untuk melaksanakan sholat. Jika shalat malam dilakukan tanpa tidur terlebih dahulu, maka sholat tersebut termasuk Qiyamul Lail, tetapi tidak disebut Tahajud.
3. Perbedaan Qiyamul Lail dan Tahajud
Perbedaan utama Qiyamul Lail dan Tahajud terletak pada cakupan dan syarat pelaksanaannya. Qiyamul Lail memiliki makna yang lebih umum, sedangkan Tahajud lebih khusus. Qiyamul Lail dapat dilakukan tanpa tidur terlebih dahulu, sementara Tahajud disyaratkan dilakukan setelah bangun tidur.
Dari sisi bentuk ibadah, Qiyamul Lail tidak hanya sholat, tetapi juga mencakup dzikir, doa, dan membaca Al-Qur’an. Sebaliknya, Tahajud secara khusus merujuk pada sholat sunnah malam. Dengan kata lain, setiap Tahajud adalah Qiyamul Lail, tetapi tidak semua Qiyamul Lail adalah Tahajud.
4. Waktu Pelaksanaan
Qiyamul Lail dapat dilakukan sejak setelah sholat Isya hingga terbit fajar. Namun, Tahajud biasanya dilakukan pada sepertiga malam terakhir setelah bangun dari tidur. Waktu ini dianggap paling utama karena doa-doa lebih mustajab dan suasana malam lebih tenang untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Baca Juga: Ciri-Ciri Wanita Rajin Sholat, Khususnya Tahajud
5. Keutamaan Keduanya
Baik Qiyamul Lail maupun Tahajud memiliki keutamaan besar. Allah SWT memuji orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah dalam Al-Qur’an surat As-Sajdah ayat 16.
Sementara itu, Tahajud secara khusus disebut dalam surat Al-Isra ayat 79 sebagai ibadah yang dapat mengangkat derajat seorang hamba ke tempat yang terpuji.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, perbedaan Qiyamul Lail dan Tahajud terletak pada cakupan dan syarat pelaksanaannya.
Qiyamul Lail adalah ibadah malam secara umum, sedangkan Tahajud adalah sholat malam yang dilakukan setelah tidur.
Memahami perbedaan ini membantu umat Islam menjalankan ibadah dengan lebih tepat, tanpa harus merasa terbebani. Baik Qiyamul Lail maupun Tahajud, keduanya merupakan amalan mulia yang mendekatkan hamba kepada Allah SWT.
Semoga artikel dari Bukunesia Store ini bermanfaat sebagai bekal menjalankan sholat qiyamul lail dengan pemahaman yang benar.
Referensi
Al-Qur’an Al-Karim. (n.d.). Surah Al-Isra ayat 79; Surah As-Sajdah ayat 16.
An-Nawawi, I. (2015). Riyadhus Shalihin. Beirut: Dar Al-Fikr.
Muslim, I. H. (n.d.). Shahih Muslim.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Tuntunan Ibadah Sunnah. Jakarta: Kemenag RI.
Ibnu Katsir, I. (2000). Tafsir Ibnu Katsir. Riyadh: Dar Thayyibah.






